Bersyukur, Bersyukur dan terus Bersyukur

 “Allah ternyata sayang aku”, begitulah kini yang ku rasakan saat kejadian itu telah terjadi.

Ceritanya begini, pagi itu tanggal 21 September adik memberi kabar jika ia mau berangkat ke kota J, teman saya dan suami tinggal. Adik mau sekolah disini. Alhamdulillah, bersyukur pada Allah Ta’ala karena adik ana mendapatkan hidayah lebih banyak dari kami yang ada di sekitarnya karena ia benar- benar di mudahkan oleh Allah untuk mengenal Dien  lebih dalam. Baarakallahu fiik dek ‘.

Adik sampai di kota J ternyata sore. Saya yang baru saja pulang di beri kabar oleh adik bahwa ia sudah sampai dan minta di jemput. Saya pun berpikir tidur 5 menit mungkin ta apa sekedar mengembalikan energi agar tak terlalu mengantuk. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 4 sore.

Bergegas bangun, sholat dan berangkat. Kondisi yang seperti orang kaget membuat saya harus berusa mengembalikan semua kesadaran saya bahwa saya sedang mengendarai sepeda motor.

Perjalanan setengah jam sudah saya lewati…. Tiba- tiba… brukkk, innalillahi wa innailaihi raajiuun, saya jatuh menabrak pak tua di depan saya yang sedang bersepeda. Saya masih belum sadar jika saya tengah mengalami tragedi kecelakaan. Masyaa allah…. Saya pun menangis bingung , karena seketika itu saya merasakan lutut saya kaku dan sakit. Cepat- cepat sepasang suami istri penjual mie ayam yang mangkal di daerah situ mengangkat saya dan motor saya. Saya pun di ajak duduk dan tak berapa lama saya pun diberi air putih. Alhamdulillah…..

Pak tua pengendara sepeda pun menghampiri saya dan menyalami saya,’ justru beliau tak jatuh dan tak luka sedikit pun.. karena ban motor saya menyenggol ekor sepeda dan saya mengerem mendadak dan karea tidak kuat menahan motor, jatuhlah saya. Alhamdulillah dari arah yang berlawanan tak ada kendaraan yang biasa lewat tiap sorenya seperti truk- truk, bis, motor.

Ternyata badan yang lelah membuat saya agak lama merespon kejadian tersebut. Sejenak saya duduk dan di hibur oleh bapak ibu penjual mie ayam. “ istirahat dulu disini mbak, biar agak tenang dulu” begitu ujar si ibu menenangkan saya. Beberapa menit saya disana, diajak mengobrollah oleh mereka. Memang hati- hati jika kondisi lelah ,ngantuk lebih baik berhenti dulu dan memang saya lupa membaca doa keluar rumah dan naik kendaraan serta dzikir sore… alhamdulillah diingatkan Allah Ta’ala lewat kejadian ini.

Saya pun melanjutkan perjalanan menjemput adik, walaupun agak pegal- pegal tapi saya harus segera menjemput adik, waah…. Helm adik jadi korban kecelakaan ini..

Saya sangat bersyukur pada Allah ta’ala, karena saya masih diingatkan dan dilindungi dengan tak mengalami luka parah. Karena beberapa meter didepan saya ada kecelakaan dan korbannya di di gotong dibawa ke Rumah Sakit.

Jika bukan karena amalan yang dilakukan semata- mata karena Allah Ta’ala, mungkin sayalah yang di gotong ke rumah sakit, mungkin saya sudah meninggal , mungkin anggota tubuh saya diamputasi.

Hal ini mengingatkan saya, bahwa saya punya amalan rutin yang mungkin sahabat semua bisa ikut mempraktekkan, yakni bersedekah. Saya seorang guru, plus guru tahfidz alhamdulillah dipercaya sekolah mengajari anak-anak menghafal Al- Qur’an. Setiap kali ada yang mumtaz saya beri mereka hadiah. Beberapa anak menyeletuk”  Bu Guru orang kaya ya, kita selalu diberi hadiah jika mengerjakan kebaikan”. Saya pun tersenyum, anak- anak  sungguh sangat polos. Bagi mereka orang kaya itu orang yang suka memberi karena ia banyak harta. Hmm…. “ anak- anakku sayang, benar kita akan jadi kaya jika kita banyak memberi,harta yang kita berikan sebenarnya  untuk bekal kita di akhirat tentunya , kalau dah banyak bekalnya nanti buat beli tiket masuk syurga lhooo…  mau pilih syurga yang mana nich? Syurga juga nda gratis lhooo…

Begitu kiranya kisah ini saya tuliskan sebagai salah satu bentuk syukur saya pada allah dengan nikmat yang bertubi- tubi….

Namun perlu diingat, sedekah juga tak hanya dengan harta, namun sesuai dengan pengalaman saya sedekah yang saya lakukan adalah dengan harta .

Seperti surat:  Coba kita simak firman Allah seperti yang telah dibacakan pada awal khutbah, yakni dalam surah Ibrahim ayat 34:
Artinya: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah tidaklah dapat kamu menghinggakannya.”

Oleh karena itu dalam surat Ar-rahman, Allah Subhannahu wa Ta’ala mewanti-wanti kepada hambaNya dengan mengulang-ulang 31 kali peringatan bagi umat manusia dengan firmanNya:
Artinya: “NikmatKu manakah lagi yang kamu dustakan.”

 

Alhamdulillah… sedekah tak membuat kekurangan , justru semakin kaya dan kaya dan banyak nikmat… bahkan kini Allah ta’ala memberikan kado yang sudah 3 tahun kami tunggu yaitu calon penerus generasi kami yang semoga menjadi penerus perjuangan Islam. Aamiiin…

Ingat sahabatku semua… marilah kita bersyukur, bersyukur dan terus bersyukur

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s