Ada Apa dengan Marah???

Sedikit – sedikit marah, tersinggung sedikit marah, dinasehati marah, Kawannya melakukan kesalahan sedikit marah …. Marah, dan marah……. Hidup penuh dengan marah. Selamat ya…. , berhasil membawa Marah pulang untuk di ternakin dan di kembangbiakkan.

Hmm… Sahabat semua, marah itu salah satu dari emosi. Memang wajar ketika orang marah, namun yang lebih wajar lagi rasa marah itu di tempatkan pada tempat nya dan sesuai dengan proporsinya. Karena percaya tidak, semakin sering kita marah hal tersebut berpengaruh memperpendek usia. ( Ya… memang, namanya mati, itu takdir Mubram dari Allah), namun jika kita sering- sering marah hal tersebut memacu irama jantung yang mematikan. Hal tersebut dikatakan oleh para riset di Amerika Serikat, dalam penelitian terbarunya.

Bagaimana riset ini dilakukan?

Riset diawali dengan memperhatikan bagaimana kemarahan bisa mempengaruhi sistem elektrik jantung. Dr. Rachel Lampert  dari Yale University di New Heaven, Connecticut (AS) bersama kolega- koleganya melakukan riset terhadap 62 pasien jantung dengan menggunakan Alat getar jantung. Yang dilekatkan ke tubuh mereka, atau di sebut ICD.

ICD bisa mendeteksi irama jantung atau “ Arrhythimia” yang mengantarkan kejutan listrik guna memulihkan detak jantung normal.

Dalam riset ini, pasien diminta berolahraga untuk menghitung episode kemarahan mereka. Sementara itu, tim Lampert melakukan tes yang disebut pengatur gelombang- T untuk mengukur ketidakstabilan listrik pada jantung.

Tim riset secara spesifik  mengajukan pertanyaan- pertanyaan kepada responden guna mengingat kembali episode- episode kemarahan mereka. “Hasilnya rasa marah bisa meningkatkan ketidakstabilan elektrik pada pasien- pasien”. Kata Lampert.

Riset juga menunjukkan kemarahan bisa memicu kematian, setidaknya untuk orang- orang yang cenderung suka marah sehingga menimbulkan gangguan listrik

pada jantung.

Tidak lama dari temuan Lampert, Michael Inzlicht Profesor Psikologi Universitas Of Toronto, Kanada membeberkan  penelitian yang hasilnya agak berhubungan dengan hasil riset Lampert.

Berbagai orang dari latar belakang agama yang berbeda (Islam, katolik, hindu dsb..) diteliti. Peserta diminta untuk mengisi kuisioner agama tentang keyakinan mereka terhadap Tuhan  dan tingkat keimanan mereka. Lalu mereka diminta untuk mengerjakan tugas stroop sebuah tes psikologi  yang mengukur waktu reaksi selama menjalankan berbagai tugas, seperti mengenali warna dnegan cepat. Setiap tubuh responden (ditubuh setiap responden dipasang elektroda yangmengukur aktivitas diwilayah otak disebut Anterior Cingulate Cortex (ACC). Alat ini mengendalikab emosi dan membentuk orang guna memodifikasi perilaku saat mengalami sebuah kejadian yang memicu kecemasan ( anxiety) seperti saat melakukan kesalahan.

Hasil temuan Prof. Michael menunjukkan bahwa : OTAK ORANG BERAGAMA ( LEBIH RELIGIUS) LEBIH TENANG DIBANDINGKAN ORANG YANG TIDAK DEKAT DENGAN AGAMA.

“Orang religius / yang percaya pada Tuhan , terbukti memiliki tingkat stress/ kecemasan yang lebih rendah setelah melakukan kesalahan “ ujar Michael.

Hmm… subhanallah ya Sahabat sekalian.

Allah sangat sayang pada orang- orang yang tidak suka marah ya…

Nah… dua penelitian diatas bisa menjadi saran bagi yang gemar marah , lebih baik kita Dzikrullah yuck..

 

 

Maka marahlah sewajarnya, marah dengan tempat yang tepat , perkara- perkara yang dimana kita memang diperbolehkan marah (seperti Terhadap orang- orang yang mencela Ajaran Rosul), dan marah dengan cara yang tepat.

Wallahu’ a’lam bisshowab….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s