Bulan Suro dalam islam bernama Muharram. Bagi sebagian Warga Indonesia, Bulan ini dianggap sebagai Bulan yang mengerikan. Bagi mereka bulan Muharram dianggap bulan sial. Segala hajat perhelatan tidak boleh diadakan dibulan ini, baik khitanan terlebih lagi Pernikahan. Menurut keyakinan mereka, siapa yang melanggar hal tersebut akan celaka.

 

 

Jadi Anggapan sial dan datangnya bencana karena hari tertentu, bulan tertentu dalam bahasa arab disebut Thiyarah atau Tathayyur.

 

Istilah ini diambil dari kata thairun yang artinya burung. Hal ini karena pada mulanya orang Arab punya anggapan sial dengan sebab burung. Gerak tertentu ynag dilakukan oleh seekor burung bisa menyebabkan mereka mengurungkan diri untuk melakukan sesuatu hal. Islam datang untuk menghapus keyakinan semisal itu. Islam menegaskan bahaya dan manfaat hanya ada ditangan Allah.

This slideshow requires JavaScript.

 

Thiyarah itu bertentangan dengan tauhid karena perbuatan Allah dinisbatkan kepada makhluk. Juga dikarenakan thiyarah itu akan menjadikan sebab adanya keyakinan bahwa makhluk yang lemah itu punya pengaruh dalam takdir yang telah Allah tentukan. Oleh karena itu nabi menetapkan sebagai suatu kesyirikan.

 

Dari Abdullah bin Mas’ud , Rasulullah sallallahu alaihi wassalam besabda : “ Thiyarah itu syirik. Semua kita pasti pernah terbesit di dalam hatinya anggapan sial karena hal- hal tertentu, namun Allah menghilangkannya dengan tawakal.” (H.R. Tirmidzi no. 1614, dinilai shahih oleh Al- Albani).

 

Dari Abdullah bin Amr, Rasulullah bersabda,” Barangsiapa yang mengurungkan niatnya karena thiyarah maka dia telah melakukan kesyirikan.” Para shahabat bertanya, Wahai Rasulullah , apa penebus untuk dosa tersebut?”. Nabi bersabda, Ucapan “Allahumma la khaira illa khairuka, wa la thaira illa thairuka wa la ilaha ghairuka,’Ya Allah tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu. Tidak ada kesialan kecuali kesialan yang Kau tetapkan. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Engkau.” (HR. Ahmad no. 7045, dinilai hasan oleh Syaikh Syuaib Al- Arnauth).

 

Para ulama ahli sunnah mengingatkan dengan keras tentang bahaya Thiyarah. Karena Thuyarah adalah penyimpangan dari keyakinan yang benar bahwa tidak ada yang bisa mendatangkan manfaat dan kebaikana melainkan Allah.

 

Dalam Thiyarah, perbuatan Allah dinisbahkan kepada Makhluk yaitu keyakinan orang yang punya anggapan sial bahwa apa yang terjadi itu disebabkan sumber Thiyarah baik hari, bulan, ataupun hewan. Ini merupakan syirik dalam Rububiyyah.

Oleh karena itu, Allah membantah anggapan kaum Nabi Shalih Alaihissalam bahwa kekeringan dan paceklik itu disebabkan oleh Nabi Shalih. Allah tegaskan bahwa apa yang terjadi itu dari sisi Allah disebabkan dosa dan maksiat mereka. (QS. An-Naml : 45- 47)

 

Jadi Thiyarah adalah keyakinan yang tidak benar dan tidak punya pengaruh apa pun. Allah lah satu- satunya yang mengatur Alam semesta.

 

Dari Ummu Kurzin, Aku mendengar Nabi Sallallahu Alaihi Wassalam bersabda.” Biarkanlah burung, jangan dibentak dari tempatnya.” (HR. Abu Daud no. 2835 dinilai Shahih oleh Al- Albani)

 

Maksudnya biarkanlah burung berada di tempat yang kalian lihat, jangan pula anggapan sial dengannya karena burung tersebut tidak akan membahayakan kalian.

 

Rasulallah Salallahu Alaihi Wassalam bersabda,”Tidak ada penyakit menular dengan sendirinya dan tidak ada anggapan sial karena suatu hal.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu).

 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Nabi Salallahu Alaihi Wassallam bersabda,” Tidak ada anggapan sial karena suatu hal. Thiyarah yang terbaik adalah fa’l (kata- kata yang membuat optimis). Ada yang bertanya, “apa itu fa’l wahai Rasulallah?. Rasulallah bersabda,”Kata- kata baik yang kalian dengar.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Tentang ciri orang yang masuk syurga tanpa dihisab, Nabi Bersabda,

Mereka adalah orang- orang yang tidak meminta diruqyah, tidak punya anggapan- anggapan sial, tidak minta di- kay(pengobatan dengan besi panas) dan hanya bertawakal pada Rabbnya (HR. Bukhori & Muslim dari Ibnu’ Abbas)